Tuesday, June 1, 2021

contoh PKP UT

 

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

 MELALUI MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE

PADA KELAS IV C SD NEGERI 77 KOTA BENGKULU

 

Oleh :

 

WS MEIRANTY SAPUTRI

NIM.835963359

meiranty12112016@gmail.com

 

 


ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi oleh pembelajaran matematika yang kurang bermakna dan mengakibatkan hasil belajar yang di dapat masih sangat rendah dan di bawah rata-rata KKM sekolah yaitu 60. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran think pair share. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV C SD Negeri 77 Kota Bengkulu sebanyak 40 siswa yang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Data diperoleh dari hasil tes per siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran think pair share dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV C SD Negeri 77 Kota Bengkulu. Hal ini dapat ditunjukkan dengan data sebagai berikut: (a) nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 50 (belum tuntas); meningkat pada siklus II menjadi 78,5 (tuntas). (b) ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 60% (belum tuntas); meningkat pada siklus II menjadi 90% (tuntas).

Kata kunci : Hasil Belajar, Matematika, Think Pair Share.

 

I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

1.    Identifikasi Masalah

     Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Ilmu pengetahuan merupakan suatu landasan untuk membekali setiap manusia dalam berpikir untuk mengikuti perkembangan zaman, sehingga  pada akhirnya mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan tersebut adalah dengan melaksanakan program pendidikan.

Menurut Taufiq (2010: 1.4) pengertian pendidikan adalah proses membantu peserta didik berkembang secara optimal, yaitu berkembang setinggi mungkin, sesuai dengan potensi dan sistem nilai yang dianut dalam masyarakat. Dalam dunia pendidikan juga tidak lepas dari adanya interaksi pembelajaran agar terbentuknya suatu ilmu pengetahuan yang dapat mengubah perilaku kearah yang lebih baik. Hal ini merupakan salah satu yang menjadi tujuan dari pendidikan. Dalam pelaksanaanya interaksi pembelajaran dilaksanakan berdasarkan tahap perkembangan.

     Menurut Piaget dalam Taufiq (2010: 2.6) mengenai tahap perkembangan belajar pada peserta didik dapat digolongkan sebagai berikut: 1) Tahap Sensorimotor (0.0-2.0 tahun) yaitu gerak anak banyak didominasi oleh gerak atau pola refleks. 2), Tahap Praoperasional (0.2-7.0 tahun) yaitu pada tahap di mana anak sudah mampu menirukan perilaku yang dilihatnya atau yang pernah dilihatnya. 3), Tahap Oprasional Konkret (0.7-11.0) yaitu pada tahap ini anak sudah tidak berpikir egosentris lagi, anak sudah bisa memperhatikan lebih dari satu dimensi. Dan 4) Tahap Formal Operasional (11.0-tahun ke atas) yaitu pemikiran pada tahap ini lebih abstrak. Di usia ini anak sudah memasuki remaja awal, anak sudah tidak lagi membatasi diri pada hal-hal yang aktual, pengalaman konkret.

     Dari keempat tahapan yang dikemukan oleh Piaget dalam Taufiq tersebut, dapat kita ketahui bahwa anak usia SD terletak pada tahap operasional konkrit (7.0- 11.0 tahun) yaitu anak sudah bisa menyelesaikan suatu masalah dan disertai dengan hal-hal yang aktual dan nyata.

     Salah satu pembelajaran dengan hal-hal yang aktual dan nyata adalah pembelajaran matematika. Pada mata pelajaran Matematika di satuan pendidikan SD / MI meliputi bilangan, geometri dan pengukuran, serta pengolahan data. Pada pembelajaran geometri terdapat materi bangun datar persegi, persegi panjang, segitiga dan bangun datar lainnya. Bentuk-bentuk bangun datar tersebut dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti: papan tulis, kaca jendela, buku tulis, dan lain-lain. Untuk mendukung kemampuan tersebut dibutuhkan pemahaman matematis yang baik, karena matematika dalam perkembangannya mempunyai misi, mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi perubahan keadaan yang terjadi dalam kehidupan dunia yang selalu berkembang dan menggunakan pola pikir matematika.

2.    Analisis Masalah

Pada saat melakukan observasi di SD Negeri 77 Kota Bengkulu yaitu di kelas IVC, peneliti menemukan berbagai kendala. Kendala yang ditemui dalam proses pembelajaran matematika khususnya pada materi keliling dan luas bangun datar. Pada materi tersebut guru masih menggunakan model pembelajaran matematika yang kurang menarik minat siswa. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran matematika di dalam kelas menjadi membosankan, kegiatan diskusi kelompok yang digunakan juga tidak berjalan dengan baik dan kurang efektif, dan latihan soal yang diberikan masih dikategorikan pada tahap yang rendah sehingga kurang dapat meningkatan kemampuan berfikir anak. Oleh karena itu, pembelajaran matematika menjadi kurang bermakna dan mengakibatkan hasil belajar yang di dapat masih sangat rendah dan di bawah rata-rata KKM sekolah yaitu 60.

 

 

3.    Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah

Permasalahan yang terjadi pada kelas IV C di SD Negeri 77 Kota Bengkulu ini perlu diperbaiki dengan suatu model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran  pembelajaran yang tepat dan efektif untuk digunakan adalah model pembelajaran Kooperatif. Melalui model pembelajaran ini diharapkan pembelajaran dapat berpusat pada siswa dan siswa dapat terlibat dalam suasana pembelajaran, sehingga dapat merubah peran guru dari  peran  yang  berpusat  pada  gurunya  ke  pengelolaan  siswa  dalam kelompok-kelompok kecil. Salah satu metode pembelajaran kooperatif adalah Think Pair Share. Metode Think Pair Share ini merupakan suatu metode dalam pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bekerja sama dengan siswa lainnya. Dengan metode Think Pair Share ini siswa dapat lebih aktif dan berpartisipasi lagi di dalam kelas, dibandingkan dengan metode ceramah atau metode menghafal.  Kelebihan metode Think Pair Share ini dalam pembelajaran memiliki tahapan bagi siswa untuk dapat berfikir secara individu dalam mengerjakan tugas (tahap Think), selanjutnya siswa diharuskan untuk dapat bekerjasama dalam kelompok secara berpasangan (tahap Pair), dan siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya kepada seluruh siswa di kelas (tahap Share).

Berdasarkan uraian di atas untuk meningkatkan hasil belajar matematika peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Think Pair Share Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 77 Kota Bengkulu.

B.  Rumusan Masalah

     Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah “Bagaimana meningkatkan hasil belajar matematika melalui metode pembelajaran Think Pair Share pada siswa kelas IV C SD Negeri 77 Kota Bengkulu?”.

C.  Tujuan Penelitian

     Adapun tujuan dari penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui metode pembelajaran Think Pair Share pada siswa kelas IV C SD Negeri 77 Kota Bengkulu.

D.  Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1.        Bagi siswa

a.    Siswa mampu mengerjakan soal keliling dan luas bangun datar dengan benar.

b.    Hasil belajar siswa pada materi keliling dan luas bangun datar dapat meningkat.

2.        Bagi guru

a.    Membantu guru menyampaikan materi keliling dan luas bangun datar dengan model pembelajaran Think Pair Share.

b.    Menambah wawasan guru mengenai model pembelajaran khususnya pembelajaran Think Pair Share.

 

3.        Bagi sekolah

a.    Sebagai bahan informasi perkembangan siswa dalam pembelajaran matematika.

b.    Membawa perbaikan mutu sekolah melalui metode pembelajaran Think Pair Share.

 II. KAJIAN PUSTAKA

A.  Hasil belajar

1.    Pengertian Hasil Belajar

     Dimyati dan Mudjiono (2006: 3) hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Sedangkan menurut Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dari pengertian hasil belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh setiap siswa dari kegiatan belajar dan mengajar. Kemampuan yang diperoleh dapat berupa kemampuan dalam bidang kognitif, afektif maupun psikomotorik. Hasil belajar setiap siswa dapat dilihat dari hasil kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh guru.

Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27) menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:

a.    Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.

b.    Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.

c.    Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.

d.   Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.

e.    Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program.

f.     Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.

2.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Munadi dalam Rusman (2013: 124) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Sementara faktor eksternal meliputi faktor lingkungan dan faktor instrumental

Sedangkan menurut Sugihartono, dkk. (2007: 76- 77), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut:

a.    Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.

b.    Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar di atas, peneliti menggunakan faktor eksternal yaitu penggunaan model pembelajaran Think Pair Share. Dengan penggunaan model pembelajaran Think Pair Share diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat.

B.  Matematika

1.    Pengertian Matematika

Menurut Johnson dan Rising dalam bukunya yang dikutip oleh Erman Suherman (2003:17) mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengkoordinasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, presentasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.

Mustafa (Tri Wijayanti, 2011) menyebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang kuantitas, bentuk, susunan, dan ukuran, yang utama adalah metode dan proses untuk menemukan dengan konsep yang tepat dan lambang yang konsisten, sifat dan hubungan antara jumlah dan ukuran, baik secara abstrak, matematika murni atau dalam keterkaitan manfaat pada matematika terapan.

Russeffendi dalam Suwangsih dan Tiurlina (2006: 3), matematika adalah ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir (benalar). Matematika lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio (penalaran), bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pola pikir dengan pembuktian yang logis dan jelas serta menekankan pada penalaran, yang presentasinya lebih berupa simbol-simbol.

2.    Ciri-ciri Matematika

Menurut Soedjadi (2007: 42) ciri-ciri matematika yaitu (1) matematika memiliki obyek kajian yang konkret dan juga abstrak, (2) berpola pikir deduktif dan juga induktif, serta konsisten dalam sistemnya (termasuk sistem yang dipilih untuk pendidikan), (3) memiliki/ menggunakan simbol yang memiliki arti tertentu.

Suwangsih (2006: 25-26) ciri-ciri pembelajaran matematika di SD adalah sebagai berikut:

a.    Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral, metode spiral ini melambangkan adanya keterkaitan antara suatu materi dengan materi lainnya. Topik sebelumnya menjadi prasarat untuk memahami topik berikutnya atau sebaliknya .

b.    Pembelajaran matematika dilakukan secara bertahap. Materi pembelajaran matematika dilakukan secara bertahap yang dimulai dari konsep-konsep yang sederhana, menuju konsep yang lebih kompleks.

c.    Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif sedangkan matematika merupakan ilmu deduktif namun sesuai tahap perkembangan siswa maka pembelajaran matematika di SD digunakan metode induktif.

d.   Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.

e.    Pembelajaran matematika hendaknya bermakna konsep matematika tidak diberikan dalam bentuk jadi, tapi sebaliknya siswalah yang harus mengonstruksi konsep tersebut.

Menurut beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri matematika adalah bersifat konkret dan juga bersifat abstrak, serta memiliki simbol dengan arti tertentu. Sedangkan ciri-ciri untuk pembelajaran matematika SD setiap materi harus saling berkaitan dan dilakukan secara bertahap.

3.    Tujuan Pembelajaran Matematika

Secara khusus menurut Aisyah (2007: 1-4), tujuan pembelajaran matematika di SD yaitu sebagai berikut.

a      Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.

a      Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika

b      Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

c      Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

d     Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Menurut Jerome Bruner dalam Erman Suherman (2003: 43), mengatakan bahwa belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan pada konsep-konsep dan struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur. Bruner, melalui teorinya itu, mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga). Melalui alat peraga tersebut, anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan keterangan intuitif yang telah melekat pada dirinya.

C.  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Thinks Pair Share (TPS)

1.    Model Pembelajaran

Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Model pembelajaran didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar (Suprijono, 2011: 46). Menurut Warsono (2012: 25) model pembelajaran adalah model yang dipilih dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dan dilaksanakan dengan suatu sintaks (langkah-langkah yang sistematis dan urut) tertentu.

Selanjutnya menurut Trianto (2009: 75) setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran, selanjutnya diakhiri dengan menutup pelajaran yang meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan siswa dengan bimbingan guru.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu cara berpola yang dilakukan oleh guru sebagai pedoman dalam pembelajaran di kelas agar dapat menarik perhatian dan memotivasi siswa.

2.    Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 2-5 orang, struktur kelompoknya yang bersifat heterogen (Slavin dalam Komalasari, 2011: 62).

Sedangkan Warsono (2012: 161) berpendapat bahwa pembelajaran cooperative adalah metode pembelajaran yang melibatkan sejumlah kelompok kecil siswa yang bekerja sama dan belajar bersama dengan saling membantu secara interaktif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Slavin (dalam Isjoni 2010: 12) menyatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 dengan struktur kelompok heterogen.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran secara berkelompok kecil yang anggotanya 4 – 6 orang dengan struktur kelompok bersifat heterogen.

Adapun langkah-langkah/sintaks model cooperative learning yang dikemukakan oleh Spencer Kagan (dalam Warsono 2012: 183) adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1. Langkah-langkah Model Cooperative Learning

Fase

Perilaku Guru

Fase 1

Menyajikan tujuan pembelajaran dan perangat pembelajaran.

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menyiapkan perangkat pembelajaran, memberi motivasi siswa.

Fase 2

Menyajikan insformasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa misalnya dengan cara demonstrasi atau penyajian teks.

Fase 3

Mengorganisasikan siswa dalam tim belajar

Guru menjelaskan kepada para siswa bagaimana caranya membentuk tim belajar dan membantu seluruh kelompo agar transisi ke situasi kelas total menjadi kelompok berlangsung efisien, tidak gaduh.

Fase 4

Membantu kelompok tim dan kajian tim

Guru membantu tim pembelajaran selama mereka mengerjakan tugasnya.

Fase 5

Melaksanakan tes berdasarkan materi kajian

Guru melakukan tes terhadap hasil kerja kelompok

Fase 6

Memberikan penghargaan terhadap kinerja kelompok

Guru memberikan penghargaan baik kepasa individu maupun kelompok untuk mengetahui berbagai upaya dan pencapaian kinerjanya.

 

Jenis-jenis model cooperative learning sangat beragam. Menurut Isjoni (2010: 51) dalam Coooperative Learning terdapat beberapa variasi model yang diterapkan, yaitu diantaranya: a) Student Team Achivement Division (STAD), b) Jigsaw, c) Group Investigation (GI), d) Rotating Trio Exchange, dan f) Group Resume.

Sedangkan menurut Komalasari (2010: 62) menyatakan bahwa terdapat beberapa model pembelajaran kooperatif yaitu: Number Head Together (NHT), Cooperative Script, Student Team Achivement Division (STAD), Think Pair Share, Jigsaw, Snowball Throwing, Team Games Tournament, Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Two Stray Two Stray

3.    Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share

a.    Pengertian Think Pair Share

Warsono (2012: 202) Model cooperative learning tipe think pair share yang berarti berfikir-berpasangan-berbagi semula dikembangkan oleh Frank Lyman, juga oleh Spencer Kagan bersama Jack Hassard. Model ini oleh Johnson dan Johnson menyebutrnya tengoklah pasanganmu (Turn To Your Partner).

Dalam  Nurhadi  (2005:  120),  Frank  Lyman  (1981)  think pair share merupakan metode pembelajaran  yang dapat mengaktifkan seluruh siswa selama proses pembelajaran dan memberikan kesempatan untuk bekerja sama antar siswa yang  mempunyai  kemampuan  heterogen. 

Menurut Trianto (2010: 81) mengemukakan bahwa model pembelajaran Think Pair Share (TPS) atau berpikir-berpasangan-berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.

Dari pengertian yang telah dikemukakan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think pair share adalah salah satu dari tipe model pembelajaran kooperatif yang mengajak siswa untuk berfikir secara berpasangan, saling bekerja sama dan saling berbagi pemahaman dalam kegiatan pembelajaran.

b.   Langkah – langkah think pair share

Menurut Anita Lie (2004 : 58) menjelaskan  langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair- Share sebagai berikut :

1)   guru  membagi  siswa  dalam  kelompok  berempat  dan  memberikan tugas kepada semua kelompok.

2)   Setiap  siswa  memikirkan  dan  mengerjakan  tugas  tersebut sendiri.

3)   Siswa  berpasangan  dengan  salah  satu  rekan  dalam  kelompok  dan berdiskusi dengan pasangannya.

4)   Kedua  pasangan  bertemu  kembali  dalam  kelompok  berempat.

5)   Siswa  mempunyai  kesempatan  untuk  membagikan  hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

Tahap utama dalam pembelajaran TPS menurut Ibrahim (2005:26-27) adalah sebagai berikut.

1)   Tahap 1 : Thingking (berpikir).

Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

2)   Tahap 2 : Pairing (berpasangan)

Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.

3)   Tahap 3 : Sharing (berbagi).

Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

c.    Kelebihan  dan kekurangan think pair share

Hartina (2008) memaparkan kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah. Jadi, siswa dapat meningkatkan keberaniannya untuk berpendapat karena siswa diberi kesempatan untuk mencari pendapat masing-masing sebelum didiskusikan dengan temannya. Selain itu siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok terdiri dari 2-6 orang, kegiatan berkelompok akan menjadikan anak lebih aktif sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru.

Berikut kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share menurut Lie (2004:57):

1)   Kelebihan model kooperatif tipe TPS

a)    Meningkatkan kemandirian siswa.

b)   Meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran karena merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya.

c)    Membentuk kelompoknya lebih mudah dan lebih cepat.

d)   Melatih kecepatan berpikir siswa.

2)   Kelemahan model kooperatif tipe TPS

a)    Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir sistematik.

b)   lebih sedikit ide yang masuk.

c)    Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang melapor dan dimonitor.

Berdasarkan kelebihan model pembelajaran think pair share dapat disimpulkan, bahwa model pembelajaran think pair share dapat meningkatkan keberanian, kemandirian dan partisipasi siswa serta melatih siswa untuk berfikir secara cepat di dalam kelompoknya.

 

III. PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.  Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu

1.    Subjek Penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV C tahun pelajaran 2018/2019, yang jumlah siswanya 40 orang, terdiri dari 20 orang siswa laki-laki dan 20 orang siswi perempuan. Karakteristik siswa dalam kelas IV C adalah heterogen.

2.    Tempat Penelitian

Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan oleh peneliti dalam pelaksanaan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Tempat penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 77 Kota Bengkulu Kelurahan Padang Serai Kecamatan Kampung Melayu.

3.    Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada 11 April 2019 sampai dengan 07 Mei 2019, semester genap tahun pelajaran 2018/2019.

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Perbaikan

No

Hari/Tanggal

Mata Pelajaran

Materi

Siklus

1.

Kamis, 11  April 2019

Matematika

Keliling Persegi

Siklus I Pertemuan 1

2.

Selasa, 16  April 2019

Matematika

Luas Persegi

Siklus I Pertemuan 2

3.

Senin, 29 April 2019

Matematika

Keliling Persegi Panjang

Siklus II Pertemuan 1

4.

Selasa, 07 Mei 2019

Matematika

Luas Persegi Panjang

Siklus II Pertemuan 2

 

4.    Pihak yang Membantu

Penelitian tindakan kelas ini dibantu oleh supervisor 1 selaku  tutor yang telah ditugaskan UPBJJ-UT untuk membimbing pelaksanaan PKP di kelas bimbingan PKP. Supervisor 2 yang merupakan guru senior di SD Negeri 77 Kota Bengkulu yang membantu untuk membimbing mahasiswa melakukan perbaikan pembelajaran di kelas.

B.  Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus tindakan terdiri dari empat tahap, yaitu 1) perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi atau pengamatan, 4) Refleksi.




1.    Siklus I

a.    Perencanaan (Planning)

Pada tahap ini kegiatan yang akan dilakukan adalah pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran think pair share dengan tahapan sebagai berikut:

1)   Menganalisis mata pelajaran matematika materi keliling persegi dan luas persegi pada siswa kelas IVC (Matematika dengan KD 3.9 Menjelaskan dan menentukan keliling dan luas persegi, persegi panjang, dan segitiga serta hubungan pangkat dua dengan akar pangkat dua).

2)   Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran think pair share.

3)   Membuat lembar kerja peserta didik (LKPD)

4)   Membuat lembar observasi guru

5)   Membuat alat evaluasi (tes) siklus I

b.   Pelaksanaan Tindakan

Tahap pelaksanaan tindakan siklus 1 dilaksanakan pada dua kali pertemuan. Satu kali pertemuan dengan waktu 2 jam pelajaran atau 2x35 menit. Adapun kegiatan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan penerapan pembelajaran think pair share. Berikut kegiatan pertemuan 1:

1)   Pendahuluan

a)    Guru mengkondisikan kelas untuk siap belajar.

b)   Guru melakukan apersepsi kepada siswa.

c)    Guru mengemukakan tujuan pembelajaran.

d)   Guru menyampaikan ruang lingkup materi yang akan dipelajari.

2)   Kegiatan inti

a)    Guru menyampaikan materi tentang keliling persegi

b)   siswa diminta memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi keliling persegi (Think).

c)    Siswa dibagi menjadi bebrapa kelompok secara berpasangan (Pair).

d)   Guru memberikan LKPD kepada setiap kelompok (Pair).

e)    Siswa berdiskusi dengan kelompoknya secara berpasangan (Pair).

f)    Siswa maju ke depan kelas mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya (Share).

g)   Siswa dan guru membuat kesimpulan pembelajaran.

3)   Kegiatan Penutup

a)    Siswa bersama guru melakukan refleksi.

b)   Siswa mengerjakan evaluasi yang diberikan guru.

c)    Guru menutup pelajaran.

 

 

Kegiatan pertemuan kedua dilakukan sebagai berikut:

1)   Pendahuluan

a)    Guru mengkondisikan kelas untuk siap belajar.

b)   Guru melakukan apersepsi kepada siswa.

c)    Guru mengemukakan tujuan pembelajaran.

d)   Guru menyampaikan ruang lingkup materi yang akan dipelajari.

 

2)   Kegiatan inti

a)    Guru menyampaikan materi tentang luas persegi.

b)   siswa diminta memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi luas persegi (Think).

c)    Siswa dibagi menjadi bebrapa kelompok secara berpasangan (Pair).

d)   Guru memberikan LKPD kepada setiap kelompok (Pair).

e)    Siswa berdiskusi dengan kelompoknya secara berpasangan (Pair).

f)    Siswa maju ke depan kelas mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya (Share).

g)   Siswa dan guru membuat kesimpulan pembelajaran.

3)   Kegiatan Penutup

a)    Siswa bersama guru melakukan refleksi.

b)   Siswa mengerjakan evaluasi siklus I yang diberikan guru.

c)    Guru menutup pelajaran.

c.    Observasi (observation)

Pada tahap ketiga yaitu observasi yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Dalam observasi peneliti dibantu oleh supervisor 2 yakni dengan mengamati segala aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga kekurangan-kekurangan pada pembelajaran dapat diperbaiki. Hasil observasi kemudian dianalisis dan dievaluasi tingkat keberhasilannya.

d.   Refleksi (reflection)

Pada tahap refleksi, semua data yang telah kita dapat baik yang menyangkut seluruh hasil penilaian maupun yang menyangkut penilaian proses (hasil observasi guru dan siswa) dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil analisis tersebut kita dapat melihat tingkat keberhasilan pelaksanaan siklus I dan selanjutnya dapat dijadikan pedoman untuk merencanakan tindakan dalam siklus selanjutnya yakni siklus II.

2.    Siklus II

a.    Tahap perencanaan

Siklus II dilaksanakan dengan melakukan perbaikan-perbaikan pada bagian tertentu dari pelaksanaan siklus I. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, yaitu :

1)   Menganalisis mata pelajaran matematika materi keliling persegi panjang dan luas persegi panjang pada siswa kelas IVC (Matematika dengan KD 3.9 Menjelaskan dan menentukan keliling dan luas persegi, persegi panjang, dan segitiga serta hubungan pangkat dua dengan akar pangkat dua).

2)   Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran think pair share.

3)   Membuat lembar kerja peserta didik (LKPD).

4)   Membuat lembar observasi guru

5)   Membuat alat evaluasi (tes) siklus II

b.   Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan tindakan siklus 2 dilaksanakan pada dua kali pertemuan. Satu kali pertemuan dengan waktu 2 jam pelajaran atau 2x35 menit. Adapun kegiatan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan penerapan pembelajaran think pair share. Berikut kegiatan pertemuan 1:

1)   Pendahuluan

a)    Guru mengkondisikan kelas untuk siap belajar.

b)   Guru melakukan apersepsi kepada siswa.

c)    Guru mengemukakan tujuan pembelajaran.

d)   Guru menyampaikan ruang lingkup materi yang akan dipelajari.

2)   Kegiatan inti

a)    Guru menyampaikan materi tentang keliling persegi panjang.

b)   siswa diminta memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi keliling persegi panjang (Think).

c)    Siswa dibagi menjadi bebrapa kelompok secara berpasangan (Pair).

d)   Guru memberikan LKPD kepada setiap kelompok (Pair).

e)    Siswa berdiskusi dengan kelompoknya secara berpasangan (Pair).

f)    Siswa maju ke depan kelas mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya (Share).

g)   Siswa dan guru membuat kesimpulan pembelajaran.

3)   Kegiatan Penutup

a)    siswa bersama guru melakukan refleksi.

b)   Siswa mengerjakan evaluasi yang diberikan guru.

c)    Guru menutup pelajaran.

Pertemuan kedua dilaksanakan dengan langkah sebagai berikut:

1)   Pendahuluan

a)    Guru mengkondisikan kelas untuk siap belajar.

b)   Guru melakukan apersepsi kepada siswa.

c)    Guru mengemukakan tujuan pembelajaran.

d)   Guru menyampaikan ruang lingkup materi yang akan dipelajari.

2)   Kegiatan inti

a)    Guru menyampaikan materi tentang luas persegi panjang.

b)   siswa diminta memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi luas persegi panjang (Think).

c)    Siswa dibagi menjadi bebrapa kelompok secara berpasangan (Pair).

d)   Guru memberikan LKPD kepada setiap kelompok (Pair).

e)    Siswa berdiskusi dengan kelompoknya secara berpasangan (Pair).

f)    Siswa maju ke depan kelas mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya (Share).

g)   Siswa dan guru membuat kesimpulan pembelajaran.

3)   Kegiatan Penutup

a)    Siswa bersama guru melakukan refleksi.

b)   Siswa mengerjakan evaluasi siklus II yang diberikan guru.

c)    Guru menutup pelajaran.

c.    Observasi (observation)

Pada tahap ketiga yaitu observasi yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Dalam observasi peneliti dibantu oleh supervisor 2 yakni dengan mengamati segala aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga kekurangan-kekurangan pada pembelajaran dapat diperbaiki. Hasil observasi kemudian dianalisis dan dievaluasi tingkat keberhasilannya.

d.   Refleksi (reflection)

Pada tahap refleksi, semua data yang telah kita dapat baik yang menyangkut seluruh hasil penilaian maupun yang menyangkut penilaian proses (hasil observasi guru dan siswa) dikumpulkan dan dianalisis. Hasil analisis digunakan untuk mengetahui ketercapaian indikator pada proses pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran think pair share.

C.  Teknik Analisis Data

1.    Tes

Data tes yang dianalisis adalah nilai individu dan nilai rata-rata siswa. Berdasarkan ketetapan sekolah, siswa dikatakan tuntas belajar secara individual bila mendapat nilai ≥ 60, sedangkan secara klasikal proses belajar mengajar dikatakan tuntas bila 85% siswa di kelas memperoleh nilai ≥60.

Tabel 3.2.Kriteria Ketuntasan Minimal Mata Pelajaran Matematika

Kriteria Ketuntasan

Kualifikasi

≥ 60

Tuntas

< 60

Tidak Tuntas

  Sumber : KKM SD Negeri 77 Kota Bengkulu

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Hasil penelitian ini diuraikan dalam beberapa siklus pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Dalam penelitian ini dilakukan dua siklus, satu siklus terdiri atas dua pertemuan.

1.    Siklus I

Tindakan pada siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, Tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi sebagai berikut.

a.    Perencanaan

1)   Observasi tentang kondisi siswa pada saat pelajaran berlangsung untuk mengetahui segala kelemahan dan kekurangan dari metode sebelum dilakukan perbaikan.

2)   Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi yang telah dilakukan untuk dijadikan dasar rencana perbaikan. Berdasarkan pada tindakan pendahuluan yang dilaksanakan peneliti sebelum perbaikan, maka peneliti mengatasi persoalan dengan menggunakan model pembelajaran think pair share.

3)   Pembuatan perangkat perbaikan pembelajaran RPP, LKPD, dan soal tes akhir siklus.

b.   Pelaksanaan dan observasi

Pada awal siklus I pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua pelaksanaan tidak berlangsung sesuai dengan rencana. Hal ini disebabkan :

1)   Guru tidak melakukan kegiatan apersepsi untuk membangkitkan semangat belajar siswa.

2)   Sebagian siswa belum terbiasa dengan kegiatan berkelompok secara berpasangan.

3)   Penempatan kelompok secara berpasangan masih berdasarkan tempat duduk siswa. Sehingga ada beberapa kelompok yang berpasangan dengan tingkat kemampuan yang sama-sama rendah.

Untuk mengatasi permasalahan di atas peneliti melakukan upaya sebagai berikut.

1)   Guru memberikan apersepsi pada awal kegiatan pembelajaran.

2)   Guru memberikan motivasi kepada siswa pada siklus berikutnya agar siswa lebih aktif dalam pembelajaran.

3)   Guru membagi pasangan kelompok berdasarkan tingkat kemampuan siswa.

Pada akhir siklus I dari hasil pengamatan guru dan pengamatan supervisor 2 dapat disimpulkan:

1)   Siswa menjadi bersemangat untuk belajar.

2)   Siswa akan mulai terbiasa dan lebih aktif dengan kondisi belajar kelompok secara berpasangan.

3)   Siswa mampu melaksanakan tugas kelompok secara berpasangan dengan saling bertukar pikiran dengan teman satu kelompoknya.

 

Nilai Akhir siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.1 Hasil Evaluasi siklus I

No

Tindakan

Siklus I

1.

Nilai Terendah

20

2.

Nilai Tertinggi

80

3.

Daya Serap (%)

50%

4.

Ketuntasan Belajar (%)

60%

5.

Nilai Rata-rata

50

6.

Jumlah siswa yang tuntas

24

Kategori

Belum tuntas

 

Dari data tabel 4.1 di atas terlihat bahwa rata-rata nilai siswa pada siklus I adalah 50, daya serap 50%, dan ketuntasan belajar klasikal adalah 60%. Hal ini berarti pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I dikategorikan belum tuntas karena suatu kelas dapat dikatakan tuntas jika di kelas tersebut telah terdapat 85% dari jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 60.  Pembelajaran pada siklus ini belum tuntas disebabkan karena proses pembelajaran melalui model think pair share belum diikuti dengan baik oleh semua siswa.

c.    Refleksi siklus I

Untuk meningkatkan aspek yang masih kurang pada kegiatan pembelajaran melalui model think pair share, maka dilakukan refleksi terhadap kegiatan pada siklus I berdasarkan hasil analisis terhadap data-data yang diperoleh.

Adapun keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus I adalah sebagai berikut.

1)   Guru belum terbiasa menciptakan suasana pembelajaran yang mengarah kepada model pembelajaran thinks pair share. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi ketuntasan belajar siswa yang belum mencapai 80%.

2)   Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar berkelompok secara berpasangan.

3)   Pembentukan kelompok yang tidak heterogen menyebabkan sebagian kelompok tidak dapat mengerjakan tugas kelompoknya dengan baik.

Untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang ada pada siklus I maka pada siklus II dapat dibuat perencanaan sebagai berikut.

1)      Guru memberikan motivasi kepada siswa agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Motivasi yang diberikan dapat berupa tepuk tangan dan reward.

2)      Guru lebih aktif lagi dalam membimbing siswa agar terbiasa dengan kegiatan pembelajaran melalui model think pair share.

3)      Guru membagi kelompok secara berpasangan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.

2.    Siklus II

Seperti pada siklus I, siklus II juga dilaksanakan dua kali pertemuan yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, Tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi sebagai berikut.

a.    Perencanaan

1)   Memberikan apersepsi di awal pelajaran.

2)   Lebih intensif lagi membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran.

3)   Memberikan motivasi agar siswa lebih antusias dan bersemangat dalam kegiatan pembelajaran.

4)   Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi yang telah dilakukan untuk dijadikan dasar rencana perbaikan. Berdasarkan pada tindakan pendahuluan yang dilaksanakan peneliti sebelum perbaikan, maka peneliti mengatasi persoalan dengan menggunakan model pembelajaran think pair share.

b.   Pelaksanaan dan observasi

1)   Suasana pada kegiatan pembelajaran sudah berjalan baik. Siswa sudah terbiasa dengan cara model pembelajaran think pair share.

2)   Hampir seluruh siswa sudah terbiasa dengan kegiatan berkelompok secara berpasangan.

3)   Suasana kegiatan pembelajaran berjalan dengan efektif dan menyenangkan.

4)   Siswa terlihat aktif dalam kegiatan kelompok.

Nilai Akhir siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Hasil Evaluasi siklus II

No

Tindakan

Siklus II

1.

Nilai Terendah

40

2.

Nilai Tertinggi

100

3.

Daya Serap (%)

78,5%

4.

Ketuntasan Belajar (%)

90%

5.

Nilai Rata-rata

78,5

6.

Jumlah siswa yang tuntas

36

Kategori

Tuntas

 

Dari data tabel 4.2 di atas terlihat bahwa rata-rata nilai siswa pada siklus II terjadi peningkatan  nilai rata-rata siswa menjadi 78,5, daya serap 78,5%, dan ketuntasan belajar klasikal 90%. Hal ini berarti pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I dikategorikan tuntas karena suatu kelas dapat dikatakan tuntas jika di kelas tersebut telah terdapat 85% dari jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 60. 

c.    Refleksi siklus II

Adapun keberhasilan yang terjadi pada siklus II adalah sebagai berikut.

1)   Meningkatnya rata-rata nilai dari 50 menjadi 78,5 pada siklus II pertemuan kedua.

2)   Kegiatan pembelajaran sudah sesuai dengan RPP Perbaikan.

B.  Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Pada bagian pembahasan akan dideskripsikan secara singkat apa saja yang dilakukan oleh peneliti dari kegiatan pengamatan kondisi awal guru dan siswa mengikuti refleksi awal. Refleksi awal merupakan langkah peneliti untuk merencanakan tindakan siklus I, dan siklus II.

Keterkaitan model pembelajaran dengan tujuan, materi, dan kondisi belajar siswa pada pengamatan awal harus menjadi perhatian guru. Dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat maka pembelajaran di dalam kelas dapat berjalan dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Karena banyaknya nilai matematika yang rendah pada kelas IV C, maka peneliti menerapkan suatu model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa ditinjau dari pemahaman konsep pada pembelajaran melalui model think pair share pada materi keliling dan luas bidang datar di kelas IVC SD Negeri 77 Kota Bengkulu mengalami peningkatan pada tiap siklus.

Pada pelaksanaan kegiatan melalui model pembelajaran think pair share guru membagi siswa ke dalam kelompok secara berpasangan. Siswa secara berkelompok bekerja sama menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa yang telah dibagikan oleh guru. kemudian setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Selanjutnya siswa dengan bantuan guru menyimpulkan hasil pembelajaran. Dengan langkah pembelajaran think pair share yang dilaksanakan guru dan siswa secara tepat dan maksimal, maka nilai siswa mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar pada tiap siklus dapat dilihat dalam tabel 4.3.

Tabel 4.3 Perkembangan Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus

Siklus

Hasil Belajar

Keterangan

Rata-Rata

Daya Serap

Ketuntasan Belajar

Siklus I

50

50%

60%

Belum tuntas

Siklus II

78,5

78,5%

90%

Tuntas

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalan grafik 4.1.


Gambar 4.1 Perkembangan Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus

 

Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 50; daya serap 50% ; dan ketuntasan belajar 60%. Pada siklus I dari 40 orang siswa hanya 24 orang siswa yang mendapat nilai ≥ 60. Hal ini menunjukkan pembelajaran pada siklus I dikatakan belum tuntas. Belum tercapainya ketuntasan belajar ini karena terdapat kelemahan guru dalam proses belajar mengajar.

Pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 78,5; daya serap 78,5%; dan ketuntasan belajar 90%. Secara klasikal proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus II sudah dikatakan tuntas karena lebih dari 85% siswa telah mendapat nilai ≥ 60. Peningkatan hasil belajar ini dikarenakan guru telah memperbaiki kelemahan dan kekuranggan pada kegiatan proses belajar mengajar yang telah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu pembelajaran matematika melalui model think pair share berhasil dengan optimal.

Dengan demikian pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran think pair share terbukti dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar matematika. Hal ini sesuai dengan kelebihan yang telah dikemukakan Lie (2006:6) bahwa dengan penerapan think pair share dapat meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran dan melatih kecepatan berfikir, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

 

V. SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A.  Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1.    Pembelajaran matematika melalui model pembelajaran think pair share pada materi keliling dan luas bidang datar dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas IVC SD Negeri 77 Kota Bengkulu. Hal ini dapat ditunjukkan dengan data sebagai berikut: (a) nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 50 (belum tuntas); meningkat pada siklus II menjadi 78,5 (tuntas). (b) ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 60% (belum tuntas); meningkat pada siklus II menjadi 90% (tuntas).

2.    Pembelajaran dengan model pembelajaran think pair share tepat digunakan untuk mempelajari pelajaran matematika pada materi keliling dan luas bidang datar.

B.  Saran Tindak Lanjut

1.    Penelitian dengan model pembelajaran think pair share dapat ditingkatkan lagi dengan harapan guru dapat memperhatikan langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan optimal.

2.    Karena kegiatan pembelajaran dengan model think pair share dapat meningkatkan hasil belajar, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilaukan secara berkesinambungan dalam pelajaran matematika maupun mata pelajaran lainnya.

3.    Dalam pembagian kelompok secara berpasangan pada model think pair share hendaknya dibagi oleh guru dengan memperhatikan tingkat kemampuan setiap siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, S. dkk. (2007). Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.

Amir, M. T. (2010). Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning Bagaimana Pendidik Memberdayakan pemelajar di Era Pengetahuan. Jakarta: Prenada Media Group.

Arikunto, S. (2006). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.. Jakarta: Bumi Aksara.

                   . (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Dimyati & Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Gunanto & Dhesy A. (2016). ESPS Erlangga Straight Point Series Matematika untuk SD / MI Kelas IV. Jakarta: Erlangga.

Hartina. (2008). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Paire Share (TPS) terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 5 Makassar (Studi pada Materi Pokok Laju Reaksi). Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA, UNM.

Ibrahim, M. dkk. (2005). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA-University Press Kampus Unesa.

Inarni, T.D. (2011). Penerapan Metode Genius Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VIII.2 SMPN 3 Kota Pada Konsep Cahaya. Skripsi pada FKIP Universitas Bengkulu (UNIB): Tidak Diterbitkan.

Isjoni. (2010). Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Komalasari, K. (2010). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Refika Aditama. Bandung.

                         . (2011). Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama

Lie, Anita. (2004). Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

Nurhadi. (2005). Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: Penerbit PT. Grasindo.

Rusman. (2013). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Soedjadi. (2007). Masalah Kontekstual sebagai Batu Sendi Matematika Sekolah. (Seri Pembelajaran Matematika Realistik untuk Guru dan Orang Tua Murid). Universitas Negeri Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah

Sudjana, N. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Suherman, E. dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jica-imstep project.

Suprijono, A. (2011). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Jaya.

Susanto, A. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada media Group

Suwangsih, E & Tiurlina. (2006). Model Pembelajaran Matematika. UPI Press. Bandung.

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Kencana

            . (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kencana. Jakarta.

Wijayanti, T. (2011). Pengertian Matematika. Jakarta: PT Gramedia.

UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta: Gramedia. Pustaka Utama.

Wardani. Dkk. (2018). Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP)-PGSD. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.

Warsono & Hariyanto. (2012). Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 comments:

  1. 5 Fun Ways to Gamble at Betway Casino
    5 Fun Ways to 메이저사이트 넷마블 Gamble at Betway Casino moonpay The first step is to visit the 파워볼 구간분석 벳무브 Betway Casino website on your device. 파워 사다리 중계 To do this, click on a 프로토 승부 식 link on the right

    ReplyDelete
  2. Sega genesis games for sale | The King of Dealer
    Sega genesis games · Mega Drive video games 카지노 사이트 · 16-bit Cartridge Video Cables · Game-Time Sega Genesis · AtGames Consoles · Game Gear

    ReplyDelete